ZUHUD
Makalah
Ini Disusun Guna TugasMid Semester
Mata
Kuliah Ilmu Tasawuf
Dosen
Pengampu : Drs. H. Ahmad Hudaya, M.Ag
Disusun
Oleh :
Munirotun Nisak :
26.10.1.1.016
Mini Lestari :
26.10.1.1.013
M. Luthfi Rijalul Fikri : 26.10.1.1.012
FAKULTAS USHULUDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tasawuf sebenarnya tidak pernah mengajarkan untuk
menjauhi urusan kehidupan dunia.Hanya saja praktik tasawuf yang berlebihan dapat
mengurangi perhatian terhadap kepentingan hidup duniawi.Konsep maqamat dan
ahwal, merupakan jalan untuk menemukan tujuan dari tasawuf.Maqamat adalah jalan
spiritual untuk mendekati-Nya dan menembus tirai ke-Esaannya
(ma’rifat).Sedangkan ahwal adalah anugerah Allah yang diberikan kepada
seseorang ketika telah selesai melewati jalan panjang maqamat.
Di
dalam makalah ini akan dijelaskan proses mencapai tasawuf dengan konsep maqamat
yaitu salah satunya zuhud, tentang definisi dan bagaimana cara mencapai zuhud
tersebut.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa itu maqamat?
2. bagaimana makna dan hakekat zuhud?
3. bagaimana cara mencapai tingkatan zuhud?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Konsep Maqamat
Maqamat
adalah bentuk jama’ dari maqam.Maqam secara literal berarti tempat, posisi,
atau tingkatan.Secara terminolis berarti kedudukan spiritual. Dalam al-Qur’an kata
maqam yang berarti tempat disebutkan beberapa kali dengan kandungan makna yang
abstrak (bersifta spiritual) dan konkret (bersifat fisik dan material),
diantaranya pada surat Al-baqarah ayat 125, Al-Isra’ ayat 79, dan lain-lain.
Ada
tujuh maqamat yang dijelaskan oleh salah satu syekh sufi yaitu Al-Sarraj
diantarnya: tobat, wara’, zuhud, faqr, sabar, tawakal dan ridha. Jika dirunut
dari sejarahnya, konsep tentang maqamat sesungguhnya telah ada pada masa
awal-awal Islam. Tokoh pertama yang berbicra tentang konsep penting yang
terdapat dalam tasawuf ini adalah Ali Bin Abi Thalib, ketika ia ditanya tentang
iman, ia menjawab bahwa iman dibangunatas empat pondasi: kesabaran (shabr), keyakinan
(yaqin, keailan (‘adl), dan perjuangan (jihad). Dan tiap pondasi memiliki
sepuluh maqamat.
B. Makna
dan hakekat Zuhud
Zuhud adalah salah satu akhlak utama
seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk
meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya.Apakah itu kekuasaan, harta,
kedudukan, dan segala fasilitas lainnya.Karenanya, zuhud adalah karakteristik
dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam.Jika
tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak
dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Makna dan hakikat zuhud banyak
diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23
berikut ini.: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat
(nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah mempunyai karunia yang besar.Tiada suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu)
supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat di atas tidak menyebutkan kata
zuhud, tetapi mengungkapkan tentang makna dan hakikat zuhud.Ayat ini
menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang
kekal.Kemudian menganjurkan orang-orangberiman untuk berlomba meraih ampunan
dari Allah dan surga-Nya di akhirat.Selanjutnya Allah menyebutkan tentang
musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang
beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak
mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan.
Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang
kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika
berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia
untuk bersikap zuhud.
Demikian juga ketika Rasulullah saw, ingin
membawa para sahabatnya pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana
seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah
bersabda, ”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR
Bukhari).Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para
sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia.Beliau adalah orang yang paling rajin
bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam
berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak mengambil hasil dari semua
jerih payahnya di dunia berupa harta dan kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah
saw sangat sederhana dan bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup
di akhirat dan keridhaan Allah swt.Ibnu Mas’ud ra.melihat Rasulullah saw. tidur
di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata,
”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka
Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia
seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Para ulama memperjelas makna dan hakikat
zuhud.Secara syar’i, zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas
keperluan. Abu Idris Al-Khaulani berkata, ”Zuhud terhadap dunia bukanlah
mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud terhadap
dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada
di tangan kita. Dan jika kita ditimpa musibah, maka kita sangat berharap untuk
mendapatkan pahala.Bahkan ketika musibah itu masih bersama kita, kita pun
berharap bisa menambah dan menyimpan pahalanya.” Ibnu Khafif berkata, ”Zuhud
adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.” Ibnu Taimiyah berkata, ”Zuhud adalah
meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti.
C. Tiga Cara Mencapai Zuhud
Sebelum dijelaskan tentang cara
mencapai zuhud, ada beberapa tanda-tanda zuhud yang dikemukakan oleh Imam
Al-Ghazali yaitu: pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan
tidak bersedih karena hal yang hilang. Kedua, sama saja di sisinya orang
yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. Ketiga,
hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya
ketaatan.Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan.Apakah cinta Allah
atau cinta dunia, dan keduanya tidak dapat bersatu.
Imam Al-Ghazali mengemukakan tiga cara
mencapai zuhud yaitu Pertama, memaksa diri untuk mengendalikan
hawa nafsunya. Kedua,
sukarela meninggalkan pesona dunia karena dipandang kurang penting.Ketiga,
tidak merasakan zuhud sebagai beban, karena dunia dipandang bukan apa-apa bagi
dirinya.Sementara itu, Ibrahim bin Adham pernah ditanya seorang lelaki,
“Bagaimana cara engkau mencapai derajat orang zuhud?” Ibrahim menjawab,”Dengan
tiga hal, pertama,
aku melihat kuburan itu sunyi dan menakutkan, sedang aku tidak menemukan orang
yang dapat menentramkan hatiku di sana. Kedua, aku melihat perjalanan hidup menuju
akherat itu amat jauh, sedang aku tidak memiliki cukup bekal.Ketiga, aku
melihat Rabb Yang Maha Kuasa menetapkan satu keputusan atasku, sedang aku tidak
punya alasan untuk menolak keputusan itu.”
BAB III
PENUTUP
Kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin
diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia yang bersifat sementara, cepat
berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia mencintanya dan hakikat
akhirat yang bersifat kekal, baik kenikmatannya maupun penderitaannya.
Demikian tadi korelasi zuhud terhadap ilmu tasawuf, zuhud
bisa dikatakan sebagai salah satu proses maqamat untuk mencapai tingkat
kesempurnan dalam tasawuf. Dan dalam ilmu tasawuf merupakan hal penting yang
harus dialami begitu juga dengan ahwal.
wallahu a’lam bisshawab.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Media Zainul. 2005. Menembus
Tirai KesendirianNya: Mengurai maqamat dan ahwal. Jakarta: Prenada Media.
Tebba
Sudirman. 2003. Taswuf Positif. Jakarta: Prenada Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar